Papua Bukan Tanah Kosong
-Penulis: Bernard Koten, Daniel Gobay, OFM
Tim Kerja SKPKC FP
-Penerbit: SKPKC Fransiskan Papua
-Tahun Terbit: 2019
-Penerbit: SKPKC Fransiskan Papua
-Tahun Terbit: 2019
T ANAH PAPUA terus bercerita tentang tragedi kemanusiaan dan situasi yang buruk dengan persoalan hak asasi manusia. Tahun 2018, dibuka dengan bencana kemanusiaan di Asmat. Duka kematian puluhan balita yang terserang wabah campak dan gizi buruk. Sekitar empat bulan Asmat menjadi sorotan publik dan media, tak hanya dalam negeri tapi juga luar negeri.
bersenjata kembali pecah di Nduga, Papua. Korban berjatuhan di kedua belah pihak, namun yang paling dikorbankan masyarakat sipil. Ada ribuan penduduk Nduga terancam keselamatannya dan menjadi pengungsi di tanahnya sendiri selama berbulan-bulan.
Kota punya cerita gejolak juga, tentang gerakan prodemokrasi, yang tak leluasa bergerak berkumpul dan menyuarakan pendapatnya di muka umum. Ruang gerak terbatas dan dikekang bukan hanya bagi mereka yang menyuarakan pandangan politik berbeda dengan negara, tetapi juga yang bersuara tentang situasi kemanusiaan dan hak asasi manusia di Tanah Papua.
Selain kebebasan, keadilan, dan perdamaian, alam Papua juga tergerus oleh keserakahan. Ribuan hektare hutan dibabat dan dirusak demi industri perkebunan sawit dan lainnya. Hutan yang menjadi kekayaan alam Papua, terus tergerus dengan cepat. Hutan yang melindungi Tanah Papua berada dalam ancaman yang serius. Berbagai situasi hak asasi manusia di Tanah Papua itu diungkap dalam buku Seri Memoria Passionis No.37, “Papua Bukan Tanah Kosong”, untuk kembali menegaskan kekayaan alam dan manusia di Tanah Papua harus dihormati dan dihargai. Dan buku laporan ini bagian SKPKC FP dalam merawat dan mempertahankan tradisi dokumentasi hak asasi manusia yang dilakukan sejak 1999. Seri Memoria Passionis ini menjadi gerakan memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan di Tanah Papua.
